Kebiasaan Bunuh Diri di Jepang Serta Alasannya


Jika kehidupan samurai dan anime adalah dua hal yang paling dikenal dunia dari Jepang, maka bunuh diri bisa dibilang adalah hal ketiga. Citra bunuh diri begitu lekat dengan Jepang 

Masih ingatkah kalian dengan beberapa kasus bunuh diri yang sangat menghebohkan di dunia maya?. Tentunya hal itu menjadi sesuatu yang sangat diingat apalagi banyak orang yang juga menyaksikan hal tersebut. Bunuh diri menjadi sesuatu yang trending beberapa bulan lalu, sering dibicarakan, dan menjadi suatu hal yang ditakuti.

Pria ternyata merupakan pelaku bunuh diri yang terbanyak di Jepang, apalagi di Jepang juga ada praktik bunuh diri yang disebut dengan seppuku. Namun tidak jarang seppuku juga dilakukan oleh wanita yang sudah berkeluarga. Kebanyakan pelaku bunuh diri di Jepang berkisar pada umur 50 tahun atau setengah baya, untuk remaja dan anak-anak itu relatif jarang ditemukan.

Kemungkinan yang menjadikan banyaknya pria melakukan tindakan bunuh diri karena kehilangan pekerjaannya, atau usaha yang dia jalani gulung tikar. Apalagi pria memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan wanita, dan membuat mereka semakin tertekan karena tanggung jawab yang lebih besar yang dia miliki.


Bentuk permintaan maaf gaya Jepang?

Sudah tahu tentang seppuku? Suatu bentuk kegiatan bunuh diri yang dilakukan oleh orang Jepang dengan cara merobek perut dengan menggunakan katana yang berukuran kecil. Hal ini pun terjadi di jaman dahulu dan sudah resmi dilarang sejak tahun 1873 atau pada masa Restorasi Meiji. Biasanya orang yang melakukan seppuku karena alasan harga diri, tanggung jawab karena gagal dalam tugas, kalah dalam peperangan sehingga sebelum dipermalukan karena akan ditangkap oleh pihak musuh, para pemimpinnya biasa untuk melakukan bunuh diri.

Orang yang melakukan seppuku akan melakukan ritual yang cukup panjang, namun jika terdesak dia akan melakukannya dengan cara instan. Pelaku bunuh diri dengan seppuku biasanya melakukan tindakkan tersebut dalam kondisi bersih. Mereka membersihkan badan dan setelah itu menggunakan pakaian yang serba putih.

Mungkin dari bentuk seppuku itulah banyak orang Jepang yang melakukan tidakkan bunuh diri. Bisa dibilang ini adalah suatu bentuk budaya yang pada akhirnya turun temurun dan menjadi solusi akhir bagi orang Jepang yang putus asa dengan kehidupannya.

Kayoko Ueno, Sosiolog dari University of Tokushima, menyebut bahwa Jepang memang telah lama dikenal sebagai “nation of suicide”, atau bangsa bunuh diri. Meski begitu, temuan-temuan terakhir menunjukkan bahwa asosiasi tersebut tak lagi benar-benar tepat. 

Jepang memang punya kedekatan historis yang khusus dengan bunuh diri ini. Di masa lampau, pilihan bunuh diri banyak dilakukan dengan alasan kehormatan. Misalnya saja yang dilakukan oleh samurai di masa lampau dan serdadu fasis Jepang di Perang Dunia II. 

Samurai tersebut memilih bunuh diri ketimbang ditangkap musuh --yang mungkin membuatnya tidak setia pada sang majikan. Atau pilihan serdadu Jepang di Perang Dunia II untuk menabrakkan pesawat tempurnya yang sudah usang dan tertinggal kemampuannya ke kapal perang tentara sekutu. Bunuh diri, bagi orang Jepang, adalah upaya untuk tetap terhormat hingga akhir hayat. 


Angka Bunuh Diri yang Tinggi

Dan faktanya, angka kematian akibat bunuh diri di Jepang pun memang selalu tinggi. 

Menjelang milenium kedua, Jepang mendapati kenaikan angka bunuh diri yang signifikan. Pada tahun 1998, sebanyak 32.863 orang bunuh diri, naik 34,7 persen dibanding tahun sebelumnya -- angka tertinggi bunuh diri Jepang sejak kepolisian mereka mulai mencatat budaya umum Jepang tersebut di tahun 1947. 

Catatan yang tinggi tersebut diakibatkan oleh beberapa hal. Pada tahun 1999, tingginya tingkat depresi yang diakibatkan oleh resesi ekonomi menjadi penyebab yang paling banyak ditunjuk oleh para ahli. Beberapa media lokal menyebut kondisi tersebut “darurat”. 

Ternyata, angka tersebut sempat terus meningkat. Pada tahun 2003, Jepang mencatatkan rekor angka bunuh diri paling tinggi sepanjang sejarah. Sebanyak 34.427 orang mati akibat bunuh diri pada tahun tersebut. 

Angka tersebut memang mengalami penurunan beberapa tahun setelahnya. Pada tahun 2004, jumlah bunuh diri di Jepang turun sekitar 2.000 orang, yaitu 32.325 dalam setahun. Di akhir dekade 2010, angka bunuh diri turun menjadi 31.690. Meski turun, catatan yang melebihi titik 30.000 tiap tahunnya jelas bukanlah statistik yang bisa dibanggakan.

Angka yang luar biasa tinggi ini memaksa pemerintah Jepang berbenah. Upaya pemerintah dilakukan lewat Basic Act on Suicide Prevention yang dimulai pada 2006. Tujuannya adalah untuk mempromosikan pencegahan bunuh diri dan membantu keluarga dari orang-orang yang melakukan bunuh diri. 

Lewat upaya ini, pencegahan bunuh diri bukan lagi upaya salah satu kementerian namun menjadi tanggung jawab semua cabang pemerintahan. Semua kementerian harus awas dan berusaha untuk mencegah bunuh diri di Jepang. Lebih dari 220 juta dolar AS dihabiskan untuk upaya pencegahan yang meliputi upaya perbaikan konseling dan sistem monitoring secara online.

Hasilnya mulai terlihat pada tahun 2012. Kepolisian mencatat angka bunuh diri “hanya” mencapai jumlah 27.858 orang. Ini adalah pertama kalinya dalam 10 tahun angka bunuh diri di Jepang berada di bawah titik 30.000. Angka tersebut kembali turun menjadi 27.283 di tahun 2013, dan turun kembali menjadi sekitar 25.000 di tahun 2014.

Upaya pemerintah Jepang tampaknya memang berhasil. Pada tahun 2015, angka bunuh diri kembali menurun. Pemerintah Jepang menyebut bahwa bunuh diri masyarakatnya hanya menyentuh angka 24.025 orang. 

Ini adalah pertama kalinya dalam 18 tahun terakhir angka bunuh diri di Jepang berada di bawah angka 25.000 --turun 10.000 dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Jepang tak lagi berada di urutan pertama pemegang rasio bunuh diri dengan jumlah penduduknya dalam satu tahun, yang pada 2016 dipimpin oleh Guyana dan Korea Selatan.

Cara Bertanggung Jawab

Meski begitu, Jepang tetap ada di atas sana, selalu berada dalam peringkat 10 besar pemegang rasio bunuh diri tertinggi dunia. Praktik bunuh diri yang marak di masa lampau membuatnya tak lagi tabu di masyarakat Jepang masa-masa selanjutnya. 

Wataru Nishida, psikolog dari Temple University, Jepang, menyebut bahwa ada pemaknaan yang berbeda soal bunuh diri di Jepang dan di belahan dunia lain. 
“Jepang tidak punya sejarah keagamaan yang kuat. Jadi di sini, bunuh diri bukanlah sebuah dosa,” ucap Nishida seperti dilansir BBC. “Faktanya, bunuh diri memang masih dipandang sebagai salah satu cara seseorang bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.”
Masahiro Yamada, sosiolog dari Chuo University di Tokyo, mendukung bahwa di Jepang anggapan bahwa bunuh diri menjadi salah satu cara seseorang bertanggung jawab sudah diterima.
“Kami membuatnya (budaya bunuh diri) menjadi layaknya sebuah praktik kebajikan,” ucapnya dikutip dari USAToday.
Meski begitu, permasalahan bunuh diri buat orang-orang Jepang tidak pernah sesederhana itu. Hal yang patut dipahami dari tren bunuh diri Jepang yang tetap tinggi ini adalah alasan dan bagaimana komposisi dari orang-orang yang melakukannya. 
Mengutip dari Guardian, depresi menjadi alasan utama mengapa orang Jepang melakukan bunuh diri. Satu dari lima kasus menunjukkan hal tersebut. Setelah depresi, sakit menjadi alasan lain mengapa mati dipandang bisa memotong masa penderitaan. 
Pada tahun 2008, angka lansia yang melakukan bunuh diri naik 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hampir 36  persen dari lebih 30.000 orang yang bunuh diri berusia lebih dari 60 tahun. Alasannya didominasi oleh perkara finansial.


Bunuh Diri yang Menguntungkan


Ken Joseph dari Japan Helpline, layanan bantuan dan konseling non-profit di Jepang, juga mencermati permasalahan tersebut. Bahkan menurutnya, tekanan untuk bunuh diri tak hanya dirasakan para pensiunan, namun juga para pekerja yang berada di usia matang. Joseph melihat adanya tren bahwa bunuh diri justru menguntungkan. 
“Sistem asuransi di Jepang sangatlah longgar ketika menghadapi masalah bunuh diri,” ucapnya dikutip dari BBC. Ia mencatat bahwa sistem asuransi justru menguntungkan bagi orang-orang yang bunuh diri. 
Menurutnya, sistem asuransi di Jepang justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang sudah putus asa. “Jadi ketika semua cara sudah gagal, orang justru memilih untuk bunuh diri saja dan asuransi justru akan membayar Anda,” ucapnya.
Praktik ini ternyata memang kerap dilakukan. Sistem asuransi di Jepang, justru mendorong menempatkan aksi bunuh diri sebagai cara logis yang menguntungkan untuk dilakukan. Sebuah jurnal berjudul Suicide and Life Insurance karya Etsuji Okamoto mengkonfirmasi keanehan tersebut. 
Menurut Okamoto, ada korelasi yang positif antara rasio bunuh diri masyarakat Jepang dan ketersediaan pembiayaan asuransi untuk orang yang melakukan bunuh diri. Asuransi, sederhananya, akan membayar bila Anda bunuh diri.
Pada periode pascaperang, muncul tren yang dilakukan orang-orang Jepang yaitu menandatangani asuransi jiwa. Asuransi akan memberikan ahli waris Anda sejumlah uang atas kematian Anda. Masyarakat pun memanfaatkannya. Seseorang yang memang sudah punya niat bunuh diri, sebelum melakukan aksinya, terlebih dulu menyempatkan untuk membuat kontrak asuransi jiwa. 
Banyaknya praktik ini membuat perusahaan asuransi memberikan exemption time, atau masa tunggu kontrak tersebut berlaku. Perusahaan asuransi baru akan memberikan bayaran asuransi apabila orang tersebut melakukan bunuh diri satu tahun setelah kontrak ditandatangani. 
Meski demikian hasilnya sama saja. Orang-orang melakukan bunuh diri di bulan ke-13 setelah menandatangani kontrak. Ketika perusahaan asuransi menaikkan masa tunggu menjadi 2 tahun, masih saja tren bunuh diri memperlihatkan orang-orang melakukannya di bulan ke-25 setelah ia melakukan kontrak dengan perusahaan asuransi.

Sebuah film dokumenter Jepang berjudul Saving 10.000: Winning a War on Suicide in Japan mencermati praktik ini. Dalam film yang disutradarai oleh Rene Duignan tersebut, tampak bahwa bunuh diri memang menjadi pilihan yang strategis untuk menyelamatkan kehidupan orang-orang terdekat. 
Sebuah kuotasi dari film tersebut secara komprehensif menjelaskan fenomena ini: 
“Di Jepang, jika Anda kehilangan pekerjaan, Anda akan terputus dari pembiayaan dari perusahaan Anda.” 
“Namun demikian, sayangnya Anda masih punya sisa kredit berusia 20 tahun dan Anda punya anak-anak yang harus disokong biaya edukasinya. Apa yang akan Anda lakukan?” 
“Well, masalah ini sangatlah mudah. Utang-utang Anda akan dibayar. Kredit Anda akan rampung dalam sekejap. Anak-anak Anda akan bisa sekolah dengan tenang, dan Anda bisa saja masih mendapatkan 300 ribu dolar AS atau bahkan lebih.”



*di ambil  dari berbagai sumber: nihon no hikari, akiba nation, j-cul, jurusan jepang, jawa pos, kumparan 

0 Comments